Dimana Letak Kebahagiaan ?
Orang kafir berputar mengelilingi dunia untuk mencari arti bahagia dalam hidup. Karena versi mereka nilai kebahagiaan ada dalam tempat-tempat indah yang disambangi.
Orang fajir mencari bahagia dalam tumpukan jerami maksiat dan dosa. Karena mereka menyakini desa adalah pintu gerbang mereguk kenikmatan.
Hamba dunia mengais bahagia dengan menggali mata air dunia, ketika ia menyangka bahwa mata air duniawi akan mengenyangkan plus memberi sensasi nikmat tiada ujung.
Tapi semua itu ternyata nihil, orang kafir, hamba dunia, si fajir ternyata hanya menemukan ‘fatamorgana kebahagiaan“, bukan kebahagiaan. Karena harta, plesir, dunia, dosa seakan bahagia dari kejauhan tapi ternyata ketika didekati tak lebih kenikmatan semu yang berakhir sangat cepat dari yang mereka kira.
Di mana syurga kebahagiaan itu?
Syaikhul islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Sesungguhnya dalam dunia ini ada surga. Barang siapa belum pernah memasukinya maka dia tidak akan memasuki surga di akhirat kelak.”
Al Hasan al-Bashri mengatakan, “Carilah kenikmatan dan kebahagiaan dalam tiga haLdalam shalat, berzikir dan membaca Al Quran, jika kalian dapatkan maka itulah yang diinginkan. Jika tidak kalian dapatkan dalam tiga hal itu maka sadarilah bahwa pintu kebahagiaan sudah tertutup bagimu.”
Malik bin Dinar Rahimahullah mengatakan, “Tidak ada kelezatan selezat mengingat Allah.”
Ada ulama salaf yang mengatakan, “Pada malam hari orang-orang gemar shalat malam itu merasakan kelezatan yang lebih daripada Kelezatan yang dirasakan oleh orang yang bergelimang dalam hal yang sia-sia. Seandainya bukan karena adanya waktu malam tentu aku tidak ingin hidup lebih lama di dunia ini.”
Ulama’ salaf yang lain mengatakan, “Aku berusaha memaksa diriku untuk bisa shalat malam selama setahun lamanya dan aku bisa melihat usahaku ini yaitu mudah bangun malam selama 20 tahun lamanya.”
Ulama salaf yang lain mengatakan, “Sejak 40 tahun lamanya aku_merasakan tidak ada yang mengganggu perasaanku melainkan berakhirnya waktu malam dengan terbitnya fajar.”
lbrahim bin Adham mengatakan Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui bagaimana kebahagiaan dan kenikmatan tentu ‘ mereka akan berusaha merebutnya “dari kami dengan memukuli kami dengan pedang.”
Ada ulama salaf yang lain mengatakan, “Pada suatu waktu pernah terlintas dalam hatiku, sesungguhnya jika penghuni surga semisal yang kurasakan saat ini tentu mereka dalam kehidupan yang menyenangkan.”
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS.Yunus: 58)
Ya Rabbana, berikanlah kami nikmat bahagia dalam ibadah dan ketaatan untuk mereguk syurga dunia sebelum syurga ukhrawi.
Barakallahu Fikkum…
======
Penulis: Ust. Oemar Mita. Lc

