Our social:

Latest Post

Jumat, 22 September 2017

Dimana Letak Kebahagiaan ?



Orang kafir berputar mengelilingi dunia untuk mencari arti bahagia dalam hidup. Karena versi mereka nilai kebahagiaan ada dalam tempat-tempat indah yang disambangi.
Orang fajir mencari bahagia dalam tumpukan jerami maksiat dan dosa. Karena mereka menyakini desa adalah pintu gerbang mereguk kenikmatan.
Hamba dunia mengais bahagia dengan menggali mata air dunia, ketika ia menyangka bahwa mata air duniawi akan mengenyangkan plus memberi sensasi nikmat tiada ujung.
Tapi semua itu ternyata nihil, orang kafir, hamba dunia, si fajir ternyata hanya menemukan ‘fatamorgana kebahagiaan“, bukan kebahagiaan. Karena harta, plesir, dunia, dosa seakan bahagia dari kejauhan tapi ternyata ketika didekati tak lebih kenikmatan semu yang berakhir sangat cepat dari yang mereka kira.
Di mana syurga kebahagiaan itu?
Syaikhul islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Sesungguhnya dalam dunia ini ada surga. Barang siapa belum pernah memasukinya maka dia tidak akan memasuki surga di akhirat kelak.”
Al Hasan al-Bashri mengatakan, “Carilah kenikmatan dan kebahagiaan dalam tiga haLdalam shalat, berzikir dan membaca Al Quran, jika kalian dapatkan maka itulah yang diinginkan. Jika tidak kalian dapatkan dalam tiga hal itu maka sadarilah bahwa pintu kebahagiaan sudah tertutup bagimu.”
Malik bin Dinar Rahimahullah mengatakan, “Tidak ada kelezatan selezat mengingat Allah.
Ada ulama salaf yang mengatakan, “Pada malam hari orang-orang gemar shalat malam itu merasakan kelezatan yang lebih daripada Kelezatan yang dirasakan oleh orang yang bergelimang dalam hal yang sia-sia. Seandainya bukan karena adanya waktu malam tentu aku tidak ingin hidup lebih lama di dunia ini.
Ulama’ salaf yang lain mengatakan, “Aku berusaha memaksa diriku untuk bisa shalat malam selama setahun lamanya dan aku bisa melihat usahaku ini yaitu mudah bangun malam selama 20 tahun lamanya.”
Ulama salaf yang lain mengatakan, “Sejak 40 tahun lamanya aku_merasakan tidak ada yang mengganggu perasaanku melainkan berakhirnya waktu malam dengan terbitnya fajar.”
lbrahim bin Adham mengatakan Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui bagaimana kebahagiaan dan kenikmatan tentu ‘ mereka akan berusaha merebutnya “dari kami dengan memukuli kami dengan pedang.”
Ada ulama salaf yang lain mengatakan, “Pada suatu waktu pernah terlintas dalam hatiku, sesungguhnya jika penghuni surga semisal yang kurasakan saat ini tentu mereka dalam kehidupan yang menyenangkan.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS.Yunus: 58)
Ya Rabbana, berikanlah kami nikmat bahagia dalam ibadah dan ketaatan untuk mereguk syurga dunia sebelum syurga ukhrawi.
Barakallahu Fikkum…
======
Penulis: Ust. Oemar Mita. Lc

Jalan Menuju Surga Hanya Satu


Ini termasuk perkara yang telah disepakati oleh para Rasul sejak yang pertama hingga penutup mereka, shalawat dan salam Allah senantiasa dilimpahkan kepada mereka semua, bahwa jalan menuju Surga hanya satu, dan jalan-jalan menuju jahannam sangatlah banyak dan tidak terhitung. Oleh karena itu Allah menyebutkan jalan-Nya dalam bentuk tunggal, dan menyebut jalan menuju Neraka dalam bentuk jamak. Allah Ta’ ala berfirman:
وَأَنَّ هٰذَا صِرٰطِى مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberai-kan kalian dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)
وَعَلَى اللَّـهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَآئِرٌ ۚ وَلَوْ شَآءَ لَهَدَىٰكُمْ أَجْمَعِينَ
Dan bagi Allah jalan yang lurus, (itu) ada yang bengkok.” (QS. An-Nahl: 9) Yakni terdapat jalan-jalan yang menyirnpang dari jalan yang lurus, dan ia adalah jalan kesesatan. Allah berfirrnan:
قَالَ هٰذَا صِرٰطٌ عَلَىَّ مُسْتَقِيمٌ
Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban-Ku-lah (menjaganya).” (QS. Al-Hijr: 41)
Ibnu Mas’ud radhiyallahuanhu berkata:
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}
“Rasulullah membuat satu garis untuk kami lalu bersabda, Ini adalah jalan Allah: Kemudian beliau membuat garis-garis di kanan dan kiri garis lurus tersebut dan bersabda, (Ini ada-lah jalan-jalan. Di setiap jalan ini terdapat syaithan yang menga-jak kepadanya: Kemudian beliau membaca firman Allah :
وَرَبُّكَ الْغَنِىُّ ذُو الرَّحْمَةِ ۚ إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنۢ بَعْدِكُم مَّا يَشَآءُ كَمَآ أَنشَأَكُم مِّن ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ ءَاخَرِينَ
Jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberai-kan kalian dari jalan-Nya,” (QS. Al-An’am: 153) dan ayat seterusnya. (HR. Ibnu Majah (11) datam al-Muqaddimah bab Ittiba’us Sunnah, ad-Darimi (1/67-68) dalam al-Muqaddimah bab Fii Karahiyati Akhdzir Ra’yi, dan diriwayatkan Ibnu Hibban (1741) datam tafsir surah al-An’am.)
Jika dikatakan, “Sungguh Allah Ta’ala telah berfirman:
 (16) يَهْدِى بِهِ اللَّـهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوٰنَهُۥ سُبُلَ السَّلٰمِ  (15) قَدْ جَآءَكُم مِّنَ اللَّـهِ نُورٌ وَكِتٰبٌ مُّبِينٌ
Sungguh telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menun-juki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya menuju jalan-jalan keselamatan.” (QS. Al-Maidah : 15-16)
Maka dijawab, ia adalah jalan-jalan yang dikumpulkan di satu jalan, sama halnya dengan jalur-jalur yang banyak pada satu jalan. Inilah cabang-cabang iman yang disatukan oleh keimanan. Sama halnya seperti pohon yang memiliki banyak cabang namun tetap menyatu pada satu pohon. Jalan-jalan yang dimaksud itu adalah menyambut penyeru kepada Allah dengan pembenaran terhadap kabarnya dan ketaatan pada perintahnya. Jalan Surga ada-lah menyambut seruan pengajak kepadanya, tidak ada selain itu.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, dari Jabir radhiyallahuanhu ia berkata:
عَنْ سَعِيدِ بْنِ مِينَاءَ : حَدَّثَنَا أَوْ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ جَاءَتْ مَلَائِكَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ نَائِمٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهُ نَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَيْنَ نَائِمَةٌ وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ فَقَالُوا إِنَّ لِصَاحِبِكُمْ هَذَا مَثَلًا فَاضْرِبُوا لَهُ مَثَلًا فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهُ نَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَيْنَ نَائِمَةٌ وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ فَقَالُوا مَثَلُهُ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا وَجَعَلَ فِيهَا مَأْدُبَةً وَبَعَثَ دَاعِيًا فَمَنْ أَجَابَ الدَّاعِيَ دَخَلَ الدَّارَ وَأَكَلَ مِنْ الْمَأْدُبَةِ وَمَنْ لَمْ يُجِبْ الدَّاعِيَ لَمْ يَدْخُلِ الدَّارَ وَلَمْ يَأْكُلْ مِنْ الْمَأْدُبَةِ فَقَالُوا أَوِّلُوهَا لَهُ يَفْقَهْهَا فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّهُ نَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْعَيْنَ نَائِمَةٌ وَالْقَلْبَ يَقْظَانُ فَقَالُوا فَالدَّارُ الْجَنَّةُ وَالدَّاعِي مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنْ أَطَاعَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَى مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَّقَ بَيْنَ النَّاس
“Malaikat mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu sebagian mereka berkata, Sungguh ia sedang tidur.’ Sebagian lagi berkata, `Mata tertidur dan hati terjaga: Mereka berkata, `Sesungguhnya bagi sahabat kalian ini terdapat perumpamaan, maka buatlah baginya perumpamaan: Mereka berkata, `Perumpamaannya sama seperti seorang yang membangun rumah, lalu ia membuat jamuan padanya, kemudian mengirim seseorang untuk mengundang. Barangsiapa yang menyambut pengundang itu niscaya ia masuk ke dalam rumah dan makan perjamuan. Tetapi siapa yang tidak menyambut pengundang, niscaya ia tidak masuk rumah dan tidak makan perjamuan: Mereka ber-kata, lelaskanlah agar ia memahaminyd. Sebagian mereka berkata, `Sesungguhnya mata tertidur namun hati terjaga. Rumah itu adalah Surga dan pengundang itu adalah Muhammad. Barangsiapa yang mentaati Muhammad sungguh ia telah mentaati Allah. Barangsiapa yang durhaka kepada Muhammad berarti ia durhaka kepada Allah. Dan Muhammad adalah pemisah di antara manusia.” (HR. At-Bukhari : 7281).